Sejarah Terbentuknya Desa Girimukti Kecamatan Cisewu

(Kades Girimukti, Bpk Karna tengah menyampaikan pidato pada HUT Desa Girimukti yang ke 38)


Cisewu – Pada Jumat (07/12/18), Desa Girimukti Kecamatan Cisewu Kabupaen Garut melaksanakan Hari bersejarah Desa Girimukti yakni HUT jadi desa yang ke 38. Dalam peringatan tersebut, Kepala Desa Girimukti, Karna memberikan sambutan sekaligus juga menceritakan asal usul nama desa girimukti.

Asal – usul Desa Girimukti, kata Karna, berdasarkan suatu cerita dari para tokoh masyarakat itu bahwa belum ada keputusan tentang pemekaran desa dan membentuk nama Desa Girimukti maka yang menjadi pusat pemerintahan namanya adalah kependudukan Ciparay yang bertempat di kampung pasir jambu kependudukan Ciparay adalah merupakan kegiatan dari wilayah Desa Cisewu Kecamatan Cisewu Kabupaten Garut.

Berdasarkan hasil kajian dan penelitian serta observasi bahwa nama Ciparay terdiri dari 2 kata yaitu berasal dari kata cair atau air dan pari adalah nama ikan kecil jago Ciparay adalah sebuah sungai atau larangan yang dihuni oleh ikan paray

Sungai Ciparay bersumber dari arah selatan Kampung Baru yang berada di bawah pasir Bara dan terdapat pohon yang rindang konon katanya pohon itu diberi nama qiara Jambrong dari bawah pohon itu terdapat mata air yang mengalir ke arah utara dan bermuara ke sungai Cikawung Gading.

Pada tahun 1970-an mulai adanya wacana Bahasan tentang pemekaran desa yaitu di masa kepemimpinan bapak aja Purnama jabatan kepala desa Cisewu

Pada tahun 1978 an wacana tersebut ditindaklanjuti oleh Kepala Desa Cisewu yang baru yaitu Durachman dan dirumuskan pula sebuah nama desa yaitu girimukti oleh Kepala Desa Cisewu dengan kajian bahwa nanti kelak di kemudian hari Jika terlaksana pemekaran desa maka girimukti lah untuk namanya.

Maka atas izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala maka pada hari Kamis tanggal 6 November 1980 diputuskan bahwa Desa Cisewu dimekarkan dengan nama sebuah desa baru yaitu Desa Girimukti
Nama girimukti diambil dari kata Giri dan Mukti Giri artinya gunung Mukti Terdiri dari 5 karakter yang diawali dengan karakter m dan diakhiri dengan karakter yg dengan 2 huruf vokal maka kata Mukti artinya hidup senang atau kaya

Pada tahun-tahun 1982 merupakan awal perencanaan untuk melaksanakan Pilkades pada tahun 1984 dilaksanakan lah Pilkades pertama pada tahun ini pula terjadi perubahan penduduk dan batas wilayah akibat adanya program pemerintah yaitu transmigrasi

Dengan kondisi kondisi secara geografis dan sistem kultur yang ada di wilayah desa girimukti yang mayoritas berada di dataran tinggi atau pegunungan di bawah sistem pengairan sawah yang cukup sangat mempengaruhi pola pencaharian warga desa girimukti sehingga masyarakat desa girimukti tergolong cukup dilihat dari jenis usaha yang bermacam-macam

Sumber: koransinarpagijuara.com

0 Suka Share

Cisewu Ditimpa Musibah Longsor dan Retakan Jalan



Cisewu - Hujan deras mengakibatkan sebuah tebing longsor dan menimpa badan jalan provinsi di Kampung Kersamenak RT 02 RW 05 Desa Sukajaya Kecamatan Cisewu selatan Garut, Senin (3/12/2018), sekitar pukul 16.45 WIB.

Akibatnya jalur jalan menghubungkan wilayah Kecamatan Bungbulang dengan Kecamatan Cisewu tersebut terputus. Tak bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Tidak ada korban maupun kerusakan bangunan dalam peristiwa tersebut. Terlebih lokasi longsor cukup jauh dari permukiman penduduk.

Kendaraan dari arah Cisewu ke arah Garut maupun sebaliknya pun terpaksa tak bisa melanjutkan perjalanan akibat terhadang material longsoran tersebut. 

"Sementara ini, jalan tak bisa dilalui roda dua maupun roda empat. Tapi kita sudah berupaya memulihkan dengan menghubungi PUPR Provinsi Jabar untuk meminjam alat berat. Sambil menunggu datang alat berat, kita bersama warga berusaha melakukan pembersihan material longsor dari badan jalan secara manual dengan menggunakan cangkul," kata Camat Cisewu Doni Rukmana. 

Doni pun menghimbau para pengendara melintasi jalur jalan di wilayah selatan Garut supaya tetap berhati-hati, dan meningkatkan kewaspadaan karena kondisinya rawan bencana longsor. Terlebih dengan seringnya turun hujan belakangan ini.

Sumber: inilahkoran.com
===========
Harap berhati-hati bagi warga Garut Selatan, Jawa Barat. Akibat hujan dengan intensitas tinggi mengakibatkan bencana alam terjadi. Sore ini tiga titik bencana alam di antaranya, dua titik bencana tanah longsor dan satu titik bencana pergerakan tanah.

Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Garut, Imat menyebutkan bahwa bencana alam tanah longsor di Kampung Kersamenak, Dewa Sukajaya, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut memutus jalan milik Provinsi Jawa Barat sepanjang 20 Meter. Timbunan  material longsor dengan ketinggian mencapai hingga 15 Meter dan jalan tersebut tidak bisa dilewati kendaraan roda empat maupun roda dua.

"Hingga saat ini, bantuan alat berat belum tiba di lokasi. Warga berupaya menyingkirkan material tanah namun belum berhasil, " ujar Imat di Garut, Senin 3 Desember 2018.

Bencana tanah longsor juga terjadi di kecamatan sama yaitu di Kampung Giriwangi, Desa Sukajaya, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut. Tebing setinggi 50 Meter dan lebar 30 Meter mengalami longsor menimpa badan jalan dengan material longsor setebal dua meter.

"Jadi badan jalan tak bisa dilewati kendaraan selain itu sebuah toko kelontong milik warga bernama Dedeh Evi hancur tertimpa longsor, " ungkap Imat.

Lanjut Imat, bencana berikutnya terjadi pergeseran tanah akibat hujan deras di Jalan Provinsi antara Pangalengan-Rancabuaya tepatnya di Blok Cieuncit, Desa Sukajaya Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut. Akibat kejadian tersebut tiga kepala keluarga telah dievakuasi ke tempat yang aman karena khawatir terjadi kembali pergeseran tanah.

"Sejauh ini, alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Adapun kerugian masih dalam perhitungan petugas," katanya.

Sumber: viva.co.id

0 Suka Share

Potensi Energi Geotermal 'Cilayu' Mencapai 100 MW



Kembali 'cisewu mendunia'. Dalam sebuah tulisan yang ditulis oleh Alexander Richter pada 15 Nov 2018 dalam laman thinkgeoenergy.com, disana ada nama cisewu yang disebut. Ya, tepatnya nama 'Cilayu' disebut sebagai salah satu yang sangat potensial untuk pengembangan energi panas bumi (Geotermal energy).

Dalam tulisan yang berbahasa inggris tersebut, didalamnya mengupas tentang 'PGE exploring geothermal development at Gunung Masigit area near Kamojang'. Dalam bahasa indonesia dapat dijelaskan bahwa PGE atau PT Pertamina Geothermal Energi (PGE) tengah melakukan pengembangan energi geotermal di sekitar kamojang yakni gunung masigit.

Namun kemudian lebih jauh mengulas tentang potensi energi panas yang ada di garut, dan cisewu salah satu yang disebut. Nah lumayan kan, cisewu disebut.. he

Dalam laman tersebut, ada kutipan yang mana sebetulnya penulis Alexander ini mengutip kembali perkataan dari bupati garut. Kemudian ditambahkan dengan beberapa data lain yang memang relevant. Adapun yang ada kata cisewunya yakni 'cilayu' ada di beberapa paragrap akhir yakni:

"In addition to Mount Masigit, the potential for geothermal energy in Garut that has not been cultivated is in Cilayu, Cisewu District, which has the potential of 100 MW and Ciarinem, Pakenjeng District with a potential of 25 MW."

Dalam bahasa indonesia artinya "Selain Gunung Masigit, potensi energi panas bumi di Garut yang belum digarap adalah di Cilayu, Kecamatan Cisewu, yang memiliki potensi 100 MW dan Ciarinem, Kecamatan Pakenjeng dengan potensi 25 MW."

Ya sebagaimana diketahui bahwa memang cilayu ini memiliki lokasi yang terdapat energi panas. Bahkan katanya ada beberapa wacana yang menyatakan untuk kemudian menjadikan itu sebagai destinasi wisata pemandian air panas. Mari kita lihat kedepannya akan bagaimana..

0 Suka Share

Terseret Longsor, Minibus Masuk Jurang di Jln Cisewu



Cisewu - Nahas, sebuah kendaraan mini bus berjenis Avanza warna hitam terseret material longsoran dan masuk kedalam jurang di ruas jalan Provinsi Talegong-Cisewu Kabupaten Garut, Jawa Barat tepat di ruas betulan blok Pasir Anjing Desa Mekarsewu, Kecamatan Cisewu, Garut,  Jum’at (2/10/2018) sekitar pukul 16.00. Wib.

Kendaraan Avanza yang belum sempat diketahui nomor polisinya tersebut, belakangan diketahui saat kejadian tengah dikemudikan oleh Endang (31) dengan dua orang penumpang masing-masing Ny Elis.(39) dan Asep Uloh (41) keduanya warga Kampung Pulosari, Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung.

Menurut Dikdik Hendrajaya pengurus PMI Kabupaten Garut, hujan deras yang sebelumnya terus menerus mengguyur di daerah tersebut diduga telah memicu terjadinya longsoran tanah tebing yang kemudian menyeret sebuah kendaraan mini bus Avanza yang kebetulan tengah melintas di lokasi kejadian hingga masuk kedalam jurang dengan kedalaman 50 meter.

“Aparatur setempat bersama masyarakat terdekat langsung memberikan bantuan meskipun lokasi kejadian sangat berat. Beruntung ketiga penumpang hanya mengalami luka – .luka dan langsung di Rawat di Puskesmas Cisewu.”Kata Dikdik kepada cakrawala.co, Sabtu (3/11/2018).

Dikdik menyatakan proses evakuasi berhasil dilakukan warga dan aparat setempat sehingga dapat menyelamatkan para korban.

“Namun kendaraan masih di dalam Jurang karena sangat sulit dilakukan pengangkatan harus menggunakan alat berat. Medan tempat lokasi kejadian  sulit untuk dilakukan evakuasi karena jurang sangat terjal dan cuaca masih hujan saat itu,”ujarnya.

Sementara itu Camat Cisewu Doni menyampaikan himbauan  kepada para pengguna jalan raya di daerahnya agar selalu waspada dan hati – hati.

“Apabila terjadi hujan yang cukup deras jangan memaksakan melanjutkan perjalanan lebih baik istirahat di tempat yang aman dan ramai,”imbaunya.***JMB

sumber: cakrawala.co

0 Suka Share

Cisewu Nyatakan ‘Perang’ Pada Narkoba

Cisewu – Seluruh perangkat desa di Kecamatan Cisewu Kabupaten Garut mencanangkan pemberantasan narkoba di wilayahnya. Hal itu dilakukan untuk mewujudkan desa bersih dari peredaran narkoba.

“Seluruh warga desa di Cisewu sudah sepakat memerangi narkoba. Karen kami ingin desa-desa di sini (Cisewu Garut) bersih dari narkoba,” ujar Camat Cisewu Doni Rukmana SPd kepada wartawan, Sabtu (13/10).

Menurut dia, pencanangan desa bersih dari narkoba ini sejalan dengan program kecamatan maupun pemerintah daerah dan pusat. Yaitu menangkal peredaran narkoba, terutama di pedesaan.

“Kami ingin semua desa yang ada di daerah bersih dari narkoba,” terangnya.

Doni berpendapat, bahwa peredaran narkoba saat ini tak hanya di wilayah perkotaan, melainkan sudah masuk ke pedesaan. Sehingga, diperlukan ketahanan yang kuat dari desa untuk menangkal ancaman tersebut.

“Dengan adanya pencanangan desa bersih narkoba ini, agar warga desa mampu memiliki daya tangkal yang kuat terhadap peredaran narkoba. Kita komitmen dalam perang melawan narkoba,” paparnya.

Dia mengatakan, Kecamatan Cisewu merupakan perlintasan dari berbagai kabupaten, seperti Bandung, Cianjur dan Tasikmalaya. Tingginya mobilitas arus lalu lintas terkadang membuat jalur selatan ini mengalami kemacetan hingga puluhan kilometer.

Jika sudah demikian, kata Doni, tidak menutup kemungkinan akses pengiriman barang haram ke daerahnya menjadi sasaran peredaran narkoba.

Untuk mewujudkan pencanangan tersebut, tambah dia, pihaknya bekerjasama dengan Pergerakan Anti Napza Nusantara Amartha (PANNA) Kabupaten Garut, dalam melakukam sosialisasi kepada masyarakat.

“Kami gandeng PANNA karena lembaga ini merupakan bidangnya dalam pemberantasan narkoba,” imbuhnya.

Ketua DPD PANNA Garut, Igie N Rukmana SKom, mengapresiasi dan menyambut baik pencanangan desa bebas narkoba.

Menurutnya, langkah ini merupakan salah satu komitmen daerah Cisewu dalam upaya melaksanakan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN).

“Hal ini adalah bentuk nyata dan kesungguhan seluruh komitmen anak bangsa untuk aktif dalam mencegah penyalahgunaan dan peredaran narkoba,” katanya. (yna)

Sumber: RadarTasikmalaya

0 Suka Share

[Mistis Cisewu] Bunyi Lesung Siluman Penanda Kematian


Cisewu - Lesung atau lisung adalah alat tradisional yang berfungsi untuk memisahkan kulit padi dan beras. Alat ini dahulu digunakan masyarakat Sunda ketika belum ada mesin penggilingan padi.

Lesung dibuat dari kayu gelondongan dan dibentuk menjadi seperti perahu. Bagian cekungan digunakan untuk menampung padi yang akan ditumbuk menggunakan semacam tongkat kayu yang biasa disebut alu. Dengan tumbukan secara mekanik, kulit padi akan terkelupas menjadi beras.

Zaman dahulu, kegiatan menumbuk padi dilakukan oleh beberapa orang secara bersama-sama. Benturan kayu melalui alu dan lesung menghasilkan alunan musik ritmis yang khas. Alunan musik itu bisa bergema sampai ke desa-desa sekitar Cisewu.

“Kini lesung dan alu menjadi barang antik. Orang sudah tidak lagi menggunakannya karena sudah ada penggilingan padi,” kata Mardiana (53) kepada NNC, Sabtu (8/9/2018) di rumahnya yang terletak di Desa Cisewu, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

“Maka, kalau di zaman sekarang terdengar alunan musik lesung dan alu, sebenarnya pantas dicurigai,” sambung Mardiana. Ibu paruh baya dan telah beranak tiga itu mempunyai kenangan tersendiri terhadap alunan musik itu.

“Dulu, saat saya kecil, masih ada yang menumbuk padi dengan alu dan lesung,” katanya.

Ia sangat mengenal alunan musik itu. Namun, buru-buru ia memotong ceritanya dengan hal yang cukup mengejutkan penulis, “Tapi, jangan dikira semua alunan musik lesung itu semua benar-benar hasil dari kegiatan menumbuk padi. Ada jenis alunan musik lain yang sebenarnya siluman,” ungkapnya.

Maksud Mardiana sempat sulit dicerna penulis. Namun, ia kemudian memperjelas, “Jadi, ada alunan musik lesung yang sebenarnya jadi-jadian atau alunan musik yang dimainkan oleh roh halus. Roh halus itu sedang menggoda dan mencari mangsa untuk menjadi temannya di alam baka.”

Menurut Mardiana, dulu setiap kali ada siluman alunan musik lesung, pasti tak lama kemudian akan ada warga yang meninggal. “Musik siluman itu kadang terdengar menjelang maghrib. Tak jarang juga terdengar setelah salat subuh,” ujarnya.

Kata Mardiana, “Ciri dari alunan musik lesung buatan siluman ‘pencabut nyawa’ itu, gemanya mendayu-dayu dan sampai di telinga seperti bergelombang, volumennya seolah mengeras dan mengecil. Suaranya bisa didengar semua orang di satu desa dengan jelas.”

Musik itu konon dimainkan para siluman atau roh halus untuk mengiringi arwah orang yang akan meninggal. Maka bisa dikatakan, siluman musik lesung di Cisewu adalah roh halus yang bertugas mengantar seseorang menghadap pada Tuhan Yang Maha Esa.

Rupanya, hantu musik lesung yang dikisahkan Mardiana ada asal-usulnya. Mardiana mampu menjelaskannya karena memang ada kisah dan sejarahnya yang nyata dan pernah terjadi.

“Hantu alunan musik lesung terjadi sejak ada peristiwa tewasnya dua orang pembuat lesung pada 1932,” kata Mardiana yang mengaku hobi membaca-baca buku sejarah dan pernah duduk di bangku sekolah hingga SMA di Bandung, Jawa Barat.

“Persitiwa itu sebenarnya dicatat juga dalam Koran de Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad yang terbit tanggal 24 Mei 1932. Saya pernah membacanya di sebuah buku,” kata Mardiana yang sayangnya mengaku lupa dengan judul buku itu.

Ia menambahkan, “Isi beritanya cukup detail yang menjelaskan kisah Veldpolitie, atau polisi lapangan di era Kolonial Belanda di daerah Garut, berhasil membongkar kasus tewasnya dua orang pembuat lesung, yang terjadi di sekitar hutan dekat perkebunan teh dan kina di Pasirmalang.”

Perkebunan teh yang dimaksud Mardiana, kini terletak di perbatasan Kabupaten Garut dan Bandung, tepatnya di Desa Warnasari, Kecamatan Pangalengan, Bandung. Penulis sempat melacak alamat lokasi yang diberikan Mardiana.

Memang benar seperti dituturkan Mardiana, pada mulanya Veldpolitie curiga atas laporan dua warga kepada Kepala Desa Cisewu yang menyebutkan bahwa dua orang lelaki yang tewas itu disebabkan karena terjatuh di Sungai Tjilaki. Saat dilaporkan, kedua mayat itu telah dikuburkan.

Dua orang warga yang melapor itu akhirnya diperiksa polisi Belanda. Mayat dua temannya juga digali dan dilakukan otopsi di Rumah Sakit Juliana, Bandung. Akhirnya, semua fakta terbongkar.

Ternyata, dua teman pelapor yang berprofesi sebagai pembuat lesung, tewas bukan karena jatuh di kali. Kedua orang itu tewas karena tertimpa pohon yang akan dicuri dari hutan.

Saat mencuri pohon di hutan, mereka berempat menebang dengan cara yang salah. Arah robohnya tidak sesuai yang direncanakan, tetapi berbalik ke arah lain dan menjatuhi dua orang di antara mereka. Dua warga yang selamat berusaha membuat cerita palsu untuk menutupi aksi pencurian kayu.

“Sebenarnya, bagi saya, isi berita zaman Belanda itu juga menyiratkan arti ketidakadilan. Mengapa? Kalau orang Belanda membabat hutan untuk membuka perkebunan teh dan kina, dianggap sah-sah saja. Tapi kalau orang bumiputra mengambil pohon di negerinya, malah dikatakan pencuri,” kata Mardiana yang menandakan ia adalah sosok perempuan yang cukup cerdas.

Ia melanjutkan, “Yah, begitulah, Mas. Sejak kematian dua orang pembuat lesung, warga di desa ini sering mendengar suara musik lesung, padahal tak ada warga yang menumbuk padi. Dan setiap bunyi alunan musik itu terdengar, esok harinya ada warga yang meninggal.”

“Mungkin, dengan cara itulah arwah dua orang pembuat lesung itu ingin agar ia tidak dilupakan. Mereka adalah orang bumiputra pembuat lesung yang miskin dan tewas mengenaskan tetapi dicap sebagai pencuri,” sambung Mardiana sambil membandingkan nasib pejabat yang korupsi tetapi tetap mujur setelah bebas dari penjara.

Saat penulis menanyakan apakah siluman alunan musik itu masih sering terdengar hingga kini, Mardiana menjawab, “Sejak era modern dan banyak berdiri perumahan, keramaian, saya sudah lama tak mendengar alunan musik siluman itu. Saya sebenarnya kangen suaranya,” pungkasnya.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro

SUMBER
0 Suka Share