Bedah Rumah Warga di Sukajaya, KKN Uniga Dipuji Bupati



Cisewu - Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Negeri Garut (UNIGA) memberikan kesan mendalam pada para warganya. Kontribusi mereka dalam banyak bidang telah memberikan manfaat baik dan luar biasa untuk warga-warga khususnya yang ada di kecamatan Cisewu.

Salah satu yang cukup menarik adalah adanya kegiatan bedah rumah yang dilakukan oleh
Kelompok 26 KKNsukajaya2 Universitas Garut. Mereka secara bahu-membahu membedah rumah warga yang sudah rusak di Kampung Cisalak RT 04/03 Desa Sukajaya, Kecamatan Cisewu.

Salah seorang Mahasiswi peserta KKN Tematik Uniga dari kelompok Desa Sukajaya, Tati Sumarni mengatakan bahwa dia bersama teman -temannya (Yuli Frizkiani L, Pera Setiani, Desi Susilawati R, Ika Siti Rukoyah, Risna Febrianti, Ratna Wulansari, Enur Aipa, Decky Rynaldi, Ihwan Ihpawan, Erza Andika, Ridwan Setiawan, Andri Gunawan dan Sopian Subagja S) ikut ambil bagian membantu renovasi rumah salah seorang warga tersebut.

"Tim KKN sejak awal dilibatkan dalam merencanakan dana, pencairan, pembelian bahan bangunan, hingga selesai rehabilitasi rumah." kata Tati.

Menurut dia, dalam upaya renovasi rumah tersebut seluruh warga turut bergotong royong membantu. "butuh waktu sekitar dua hari untuk membangun rumah warga tersebut. Cepatnya waktu pembangunan," lanjutnya.

Sementara itu, warga yang rumahnya diperbaiki oleh mahasiswa Umban (82), mengucapkan terima kasih atas bantuan perbaikan rumah yang diberikan tersebut.

“Rumah saya sudah mau ambruk, dinding dan gentengnya sudah mau roboh. Terima kasih kepada mahasiswa yang sudah peduli,” ucap umban.

Aksi bantuan bedah rumah yang dilakukan oleh mahasiswa uniga tersebut kemudian mendapatkan apresiasi dari Bupati Garut, H Rudy Gunawan SH MH. Bupati mengaku sangat senang mahasiswa Uniga memiliki program bedah rumah ini.

“Apalagi saya dengar sampai berinisiatif menggalang dana untuk membantu merehabilitasi rumah yang tidak mendapat bantuan dari pemerintah,” kata Bupati seperti dilansir HarianGarut (10/02/19).

Menurut dia, Kabupaten Garut masih butuh inovasi dan sentuhan-sentuhan dari mahasiswa seperti itu. (wdy)

0 Suka Share

Desa Cisewu Kembangkan Budidaya Lada (Pedes)


Cisewu.com - Cisewu memiliki tanaman khas unggulan yang menjadi ciri khas dan dominan ditanam oleh warganya. Sebut saja ada kapol, nilam, cengkeh, lada dan juga tanaman yang lainnya.

Belum lama ini ada sebuah video yang diupload oleh channel YouTube Cerita Desa dengan judul 'Merica Khas Desa Cisewu'. Dalam video tersebut, Kepala Desa Cisewu Bpk Udan Rukmana menyampaikan bahwa salah satu potensi ekonomi di desanya adalah pengembangan budidaya merita (pedes).

"Untuk pengembangan ekonomi kedepannya khusus di merica lumayan menjanjikan" katanya dala video tersebut.

Melihat potensi tersebut, Beliau mengatakan bahwa pihaknya akan meningkatkan potensi budidaya tersebut lewat kelompok tani (Poktan). Dia juga Berharap kedepannya banyak masyarakat yang tertarik untuk menanam pohon merica ini.

"Nah harapan kami kedepan, seluruh lapisan warga khusus di desa cisewu menanam atau bisa mengembangkan pohon merica ini" tambahnya.

Sebagai bentuk keseriusan dalam pengembangan budidaya ini, bahkan dia mengaku bahwa sudah dialokasikan dana desa khusus.

"Kami sudah usulkan pengalokasian dana desa untuk pengembangan merica ini" tegasnya.
Sementara itu, salah seorang warga yang membudidayakan tersebut Yudianaf mengatakan bahwa budidaya ini diharapkan bisa mendongkrak perekonomian di wilayah cisewu khususnya. Dia mengajak seluruh warga untuk ikut berpartisipasi mengembangkan budidaya lada tersebut.

"Cara menanam lada ini di daerah kami sangat cocok, karena datarannya dataran rendah, dan pemeliharaannya tidak begitu sulit" katanya.

Dia juga berharap bantuan dari pemerintah khususnya dalam inovasi pengembangannya karena jika serius ini bisa menjadi salah satu upaya untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru untuk masyarakat sekitar.

“Inovasi kedepannya mungkin dari pemerintah juga turut membantu” ucapnya.
Tonton videonya: https://www.youtube.com/watch?v=QedVZnSYw8M
(wdy)

0 Suka Share

Curug Anjing, Potensi Wisata Tersembunyi di Piket Desa Cisewu



Cisewu.com - Cisewu kaya akan keindahan alam yang sangat luar biasa. Namun sayang objek -objek keindahan alam itu belum banyak terjamah. Hanya warga sekitar saja yang sering mengunjungi lokasi-lokasi itu.

Sekarang kita sudah memasuki jaman dan era digital, dan sudah saatnya kita coba untuk mengenalkan objek-objek tersembunyi itu ke publik. Tak harus ke publik internasional, setidaknya kita warga cisewu bisa mengenal dan mengetahuinya, akan lebih baik jika mau berkunjung dan coba mengenalkannya kembali.

Nah belum lama ini,  kita kedatangan mahasiswa dari Universitas Garut yang tengah melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik. Sangat luar biasa sekali, mereka coba untuk melakukan eksplorasi potensi wilayah dimana dia di tempatkan. Di setiap desa, ada dua kelompok yang ditempatkan, kontribusi mereka sangat nyata.

Mengenalkan objek wisata tersembunyi di cisewu salah satunya dilakukan oleh peserta KKN Tematik Universitas Garut 2019 Kelompok 18 Cisewu 2. Para peserta KKN itu mengunjungi salah satu objek wisata tersembunyi berupa curug yang tepatnya ada di Kampung Piket RW.03 Desa Cisewu Kecamatan Cisewu Kabupaten Garut Jawa Barat.

Para peserta melakukan kunjungi ke curug tersebut dengan ditemani oleh Ibu RW dan Ibu RT serta anak-anak setempat pada Minggu, 27 Januari 2019 lalu.  Akses perjalanan menuju ke lokasi memang sangat terjal sekali dan curam. Namun semua itu terbayar karena di sepanjang jalan mereka disuguhi dengan keindahan alam serta kondisi hutan yang masih sangat asri.

Tak hanya itu, mereka juga bisa menikmati keiindahan hamparan pemandangan termasuk sawah yang tengah menghijau dari atas pegunungan. Udara yang sejuk dan segar menjadi pengobat dan penyemangat untuk mereka tetap melanjutkan perjalan sampai ke lokasi curug.

Sesampainya di lokasi curug, mereka menemukan pemandangan air jatuh darii ketinggian yang didukung dengan kondisi alam yang sejuk. Mereka kemudian berfoto bareng di bawah air terjun tersebut untuk mengabadikan momen yang tak terlupakan.

Curug ini memang layak untuk kiita promosikan sebagai objek wisata yang potensial. Bagi kamu warga cisewu yang sedang pusing banyak pikiran, yuuk berkunjung kesinii..
Thanks teman –teman kkn uniga 2019.

0 Suka Share

Gunung Tumpeng Terkenal Karena Keangkerannya


Cikarang - Gunung tumpeng berada di kawasan Pasereuhan, Cikarang, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut. Tumpeng adalah sajian nasi berbentuk kerucut dalam istilah adat sunda. Gunung Tumpeng sangat mudah dikenali karena bentuknya yang sangat menonjol dibanding dataran sekitarnya.

"Iya memang tinggi sekali. Luasnya bisa sampai 1hektar" Ujar Pak Herman, sekdes Cikarang.

Di hadapan gunung ini ke arah barat, mengalir Sungai Ci Laki yang bersumber dari pegunungan di selatan Bandung. Sungai yang menjadi salah satu nama jalan di kota Bandung dan menjadi batas dua kabupaten, Garut dan Cianjur, ini seakan disaksikan Gunung Tumpeng mengalir ke laut Selatan.

Konon pada zaman dulu, Gunung Tumpeng ini terkenal dengan keangkerannya yang memiliki aura mistis, karena banyak yang menyebutkan bahwa pasangan gunung tumpeng tersebut adalah Gunung Dangur.

Gunung Dangur sendiri dulunya adalah tempat persembunyian orang-orang pada zaman penjajahan Belanda. Dangur merupakan sebuah kawasan  yang terabaikan atau terlupakan yang dulunya bukan perkampungan melainkan sebuah hutan subur dan masih subur sampai sekarang walau sudah terbagi-bagi menjadi beberapa kawasan.

Namun hal tersebut tidak menjadi masalah bagi masyarakat sekitar, karena sejarah tersebut turun temurun dari orang tua terdahulu, dan hal ini adalah cerita rakyat yang terus berkembang.

Gunung Tumpeng memiliki keindahan yang begitu menawan bagi siapa saja yang melihatnya. Di atas Gunung Tumpeng hanya ada lempengan-lempengan batu dan pepohohan yang rimbun. Terlepas dari cerita kemistisannya, sekarang Gunung Tumpeng menjadi momentum Desa Cikarang, Kecamatan Cisewu.

Kami mengunjungi daerah ini berhubungan dengan adanya kegitan KKN Tematik Universitas Garut dan kebetulan kami ditempatkan di Desa Cikarang, Kecamatan Cisewu.

Apabila kawan semua penasaran ingin melihat Gunung Tumpeng ini, langsung saja berkunjung ke Kp. Pasereuhan, Desa Cikarang, Kecamatan Cisewu, Garut.

Note: Tulisan ini dikirim oleh salah seorang mahasiswa universitas garut (UNIGA) yang saat ini tengah melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di daerah Cikarang

0 Suka Share

Jalan Karangsewu Rusak Parah Padahal Bupati Sempat Singgah



Cisewu - Jalan menuju Desa Karangsewu, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut rusak parah. Batu-batu besar berserakan hampir di sepanjang jalan, kubangan air bercampur lumpur sisa hujan selama beberapa pekan  terakhir. juga masih tergenang. Pemandangan ini terlihat jelas di sepanjang jalan di Desa Karangsewu, Selasa (25/12)

Kondisi kerusakan di sebagian besar kawasan ini hampir merata khususnya di jalan-jalan pelosok. Hal ini diperparah dengan kultur tanah yang berbukit yang menyebabkan laju kendaraan semakin sulit. Keadaan ini lebih menghkhawatirkan dibandingkan dengan jalan yang ada di wilayah kecamatan karangsewu.

Kerusakan parah terjadi sekitar 8 tahun terakhir. karena sejak 2002 hingga sekarang tak ada sentuhan perbaikan sama sekali, permukaan jalan kian tidak rata sehingga dengan otomatis mempersulit  akses transportasi darat pengendara yang melintas.

Terkait jalan rusak, pihak desa sudah sering melaporkan ke pemerintah terkait, namun sampai saat ini pemerintah seolah tutup mata akan permasalahan ini. Bahkan pada tahun 2014 Bupati Garut sempat singgah di Desa karangsewu dan menjanjikan dalam pidatonya bahwa siap melakukan pengaspalan jalan pada tahun 2017.  Namun hingga pengujung tahun 2018 ini belum ada bukti nyata yang dilakukan oleh pemerintah Kab. Garut

Akibat kerusakan akses jalan yang parah ini, warga harus menempuh perjalanan sekitar 8 jam dari Garut Kota. Tidak hanya soal jalan yang rusak, penerangan jalan pun sangat kurang sehingga tidak memungkinkan warga untuk bisa melewati jalur tersebut pada malam hari keadaan ini di perparah lagi dengan sinyal jaringan telekomunikasi yang juga sulit terkoneksi di Desa tersebut.

Jalan tersebut merupakan jalan alternative wisata cisewu-rancabuaya yang melewati 3 Desa yaitu Desa Panggalih, Desa Karangsewu dan Desa Samudra Jaya. Semua jalan di 3 Desa tersebut rusak parah. Padahal jalan tersebut merupakan jalan alternative terdekat menuju wisata rancabuaya, khususnya dari arah bandung.

 “Kapan pemerataan pembangunan akan kami rasakan? Pemerintah kabupaten dan provinsi cobalah membuka mata, lihatlah daerah pelosok-pelosok. Jangan saling menyalahkan ini jalan desa lah, jalan kabupaten lah, jalan provinsi lah. Kami sebagai masyarakat tidak membutuhkan argument lagi, hanya bukti nyata yang kami butuhkan  saat ini setelah sekian lama menunggu janji…,” Ungkap Kepala Dusun Karangsewu, Asep Irawan.

Sumber: lppm.uniga.ac.id berikut link-nya https://lppm.uniga.ac.id/2019/01/10/nasib-jalan-karangsewu-yang-terabaikan-warga-kami-butuh-bukti/

0 Suka Share

Awal Mula Lahirnya Seni 'Gegel Jubleg' Cisewu



Cisewu - Cisewu memiliki tradisi seni yang cukup unik, menarik dan bahkan populer. Bahkan tradisi ini 'mendunia' karena tak ditemukan di daerah-daerah lain di indonesia ataupun di dunia. Tradisi yang dimaksud adalah seni atraksi 'Gegel Jubleg' yang saat ini kembali ramai karena masih dilestarikan.

Seni Gegel Jubleg merupakan atraksi multiseni yang menonjolkan kepiawaian pemain menjadikan alat penumpuk padi tunggal, lesung atau jubleg yang terbuat dari bahan kayu sebagai topeng, dan topi. Jubleg itu digigit dalam waktu cukup lama disertai pamirig atau musik pengiring. Ditambahi seni Reog, angklung, serta kendang pencak untuk menyemarakkannya.

Menggigit jubleg dan memainkannya cukup lama, tak bisa dilakukan sembarang orang, melainkan mesti yang sudah terlatih dan memiliki keahlian teknis. Sehingga tak jarang, pementasan seni Gegel Jubleg bercampur dengan atraksi seni Gesrek atau Debus.

Sayangnya, atraksi seni ini mulai jarang tampil dalam pementasan hiburan. Sehingga tak heran ketika seni yang dicoba dilestarikan kelompok seni “Giri Mekar Sewu” itu ditampilkan pada Helaran Gebyar Budaya Garut lalu cukup mengagetkan dan mengundang antusias penonton. Tak banyak orang mengetahui adanya kesenian tersebut.

“Untuk memainkan Gegel Jubleg ini memang perlu keahlian khusus. Tidak gampang mengangkat beban jubleg yang beratnya sampai 25 kilogram. Apalagi digoyang-goyang sambil berjalan-jalan,” kata penggerak seni tradisi karuhun Kecamatan Cisewu, Gun Gun Nugraha, belum lama ini.

Awal Mula Lahirnya Seni 'Gegel Jubleg'
Dia menuturkan, seni Gegel Jubleg terlahir secara tak sengaja. Kesenian ini tak terlepas dari pengalaman hidup seniman perintis kelompok seni Giri Mekar Sewu, yakni Abah Ukri pada masa sebelum kemerdekaan.

Pada suatu waktu, Bah Ukri pergi ke hutan hendak mengambil kayu bakar yang disimpannya sementara di sana beberapa hari sebelumnya. Tiba di sana, dia kaget melihat seekor babi berukuran besar melintasi jalan setapak, lalu masuk hutan sambil mengangkat dan membawa-bawa sebatang kayu berukuran cukup besar dengan cara digigitnya.

Peristiwa tersebut menginspirasi Bah Ukri mencoba menciptakan jenis seni tradisi baru yang atraktif dan fenomenal. Melalui berbagai percobaan, terciptalah jenis kesenian tradisional baru yang kini disebut seni Gegel Jubleg.

Gun Gun menyebutkan, terdapat pula cerita lain bila lahirnya seni Gegel Jubleg tak terlepas dari upaya masyarakat Cisewu untuk menakut-nakuti penjajah.

“Jubleg saja yang begitu berat dan keras sanggup diangkat dengan digigit, apalagi kalau yang digigitnya manusia. Penjajah kan jadi takut,” kata Gun Gun.

Menurutnya, Bah Ukri menciptakan seni Gegel Jubleg dalam upayanya menggali potensi kesenian di kalangan pemuda ketika masa penjajahan. Ketika itu Bah Ukri sempat membentuk sebuah kelompok seni tradisi Sunda Panca Warna. Gabungan multikesenian meliputi seni rengkong, reog, angklung, calung, debus, dan kuda lumping.

Sayangnya, perkembangan seni Gegel Jubleg timbul tenggelam. Pernah menapaki masa kejayaan pada 1990-an, namun kemudian lenyap bersamaan dengan sejumlah jenis seni tradisi Sunda lainnya.
Baru pada 2011-an, seni Gegel Jubleg kembali tampil mewarnai jagat kesenian tradisional di Garut. Kendati kesempatan pementasannya masih sangat terbatas dalam event-event tertentu.

Sumber: inilahkoran
----------------------------
Ritual Khusus Sebelum Pertunjukan / Atraksi
Hal senada juga diungkapkan oleh sejarawan Garut Warjita, menurutnya Tidak sembarang orang bisa menggigit jubleg yang beratnya puluhan kilogram itu, apalagi yang bisa melakukannya sembari menari seperti apa yang para pemain Gegel Jubleg lakukan. Hanya orang-orang terlatih yang dapat melakukannya.

"Itu salah satu ciri khas Garut, salah satu kesenian tradisional yang ada di Garut. Memang dalam permainannya itu sangat ekstrem. Bisa menampilkan hal yang di luar nalar," ungkapnya.

Setiap kali akan beraksi, para sesepuh pegiat kesenian tersebut akan melakukan ritual untuk memberi kekuatan pada para pemain. Para pemain itu terdiri dari laki-laki dan perempuan dewasa yang sudah terlatih.

"Tidak lepas dari mistis. Tapi para pemain itu melakukan latihan-latihan," katanya.
Seni ini dipercaya sudah ada sejak zaman kolonial Belanda dahulu. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat Garut, seni tersebut awalnya dimainkan untuk menakut-nakuti para penjajah yang masuk ke wilayah Cisewu.

Dengan memperlihatkan kekuatannya, para penduduk Cisewu kala itu berharap dapat membuat para penjajah ketakutan dan mengusirnya dari wilayah mereka.

"Jadi intinya itu memperlihatkan kekuatan dan kekebalan awalnya. Maka kesenian ini sering dicampur dengan seni ekstrem lainnya seperti gesrek (kesenain Garut), ucap Warjita.

Sumber: detik.com

0 Suka Share

Sejarah Terbentuknya Desa Girimukti Kecamatan Cisewu

(Kades Girimukti, Bpk Karna tengah menyampaikan pidato pada HUT Desa Girimukti yang ke 38)


Cisewu – Pada Jumat (07/12/18), Desa Girimukti Kecamatan Cisewu Kabupaen Garut melaksanakan Hari bersejarah Desa Girimukti yakni HUT jadi desa yang ke 38. Dalam peringatan tersebut, Kepala Desa Girimukti, Karna memberikan sambutan sekaligus juga menceritakan asal usul nama desa girimukti.

Asal – usul Desa Girimukti, kata Karna, berdasarkan suatu cerita dari para tokoh masyarakat itu bahwa belum ada keputusan tentang pemekaran desa dan membentuk nama Desa Girimukti maka yang menjadi pusat pemerintahan namanya adalah kependudukan Ciparay yang bertempat di kampung pasir jambu kependudukan Ciparay adalah merupakan kegiatan dari wilayah Desa Cisewu Kecamatan Cisewu Kabupaten Garut.

Berdasarkan hasil kajian dan penelitian serta observasi bahwa nama Ciparay terdiri dari 2 kata yaitu berasal dari kata cair atau air dan pari adalah nama ikan kecil jago Ciparay adalah sebuah sungai atau larangan yang dihuni oleh ikan paray

Sungai Ciparay bersumber dari arah selatan Kampung Baru yang berada di bawah pasir Bara dan terdapat pohon yang rindang konon katanya pohon itu diberi nama qiara Jambrong dari bawah pohon itu terdapat mata air yang mengalir ke arah utara dan bermuara ke sungai Cikawung Gading.

Pada tahun 1970-an mulai adanya wacana Bahasan tentang pemekaran desa yaitu di masa kepemimpinan bapak aja Purnama jabatan kepala desa Cisewu

Pada tahun 1978 an wacana tersebut ditindaklanjuti oleh Kepala Desa Cisewu yang baru yaitu Durachman dan dirumuskan pula sebuah nama desa yaitu girimukti oleh Kepala Desa Cisewu dengan kajian bahwa nanti kelak di kemudian hari Jika terlaksana pemekaran desa maka girimukti lah untuk namanya.

Maka atas izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala maka pada hari Kamis tanggal 6 November 1980 diputuskan bahwa Desa Cisewu dimekarkan dengan nama sebuah desa baru yaitu Desa Girimukti
Nama girimukti diambil dari kata Giri dan Mukti Giri artinya gunung Mukti Terdiri dari 5 karakter yang diawali dengan karakter m dan diakhiri dengan karakter yg dengan 2 huruf vokal maka kata Mukti artinya hidup senang atau kaya

Pada tahun-tahun 1982 merupakan awal perencanaan untuk melaksanakan Pilkades pada tahun 1984 dilaksanakan lah Pilkades pertama pada tahun ini pula terjadi perubahan penduduk dan batas wilayah akibat adanya program pemerintah yaitu transmigrasi

Dengan kondisi kondisi secara geografis dan sistem kultur yang ada di wilayah desa girimukti yang mayoritas berada di dataran tinggi atau pegunungan di bawah sistem pengairan sawah yang cukup sangat mempengaruhi pola pencaharian warga desa girimukti sehingga masyarakat desa girimukti tergolong cukup dilihat dari jenis usaha yang bermacam-macam

Sumber: koransinarpagijuara.com

0 Suka Share

Cisewu Ditimpa Musibah Longsor dan Retakan Jalan



Cisewu - Hujan deras mengakibatkan sebuah tebing longsor dan menimpa badan jalan provinsi di Kampung Kersamenak RT 02 RW 05 Desa Sukajaya Kecamatan Cisewu selatan Garut, Senin (3/12/2018), sekitar pukul 16.45 WIB.

Akibatnya jalur jalan menghubungkan wilayah Kecamatan Bungbulang dengan Kecamatan Cisewu tersebut terputus. Tak bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Tidak ada korban maupun kerusakan bangunan dalam peristiwa tersebut. Terlebih lokasi longsor cukup jauh dari permukiman penduduk.

Kendaraan dari arah Cisewu ke arah Garut maupun sebaliknya pun terpaksa tak bisa melanjutkan perjalanan akibat terhadang material longsoran tersebut. 

"Sementara ini, jalan tak bisa dilalui roda dua maupun roda empat. Tapi kita sudah berupaya memulihkan dengan menghubungi PUPR Provinsi Jabar untuk meminjam alat berat. Sambil menunggu datang alat berat, kita bersama warga berusaha melakukan pembersihan material longsor dari badan jalan secara manual dengan menggunakan cangkul," kata Camat Cisewu Doni Rukmana. 

Doni pun menghimbau para pengendara melintasi jalur jalan di wilayah selatan Garut supaya tetap berhati-hati, dan meningkatkan kewaspadaan karena kondisinya rawan bencana longsor. Terlebih dengan seringnya turun hujan belakangan ini.

Sumber: inilahkoran.com
===========
Harap berhati-hati bagi warga Garut Selatan, Jawa Barat. Akibat hujan dengan intensitas tinggi mengakibatkan bencana alam terjadi. Sore ini tiga titik bencana alam di antaranya, dua titik bencana tanah longsor dan satu titik bencana pergerakan tanah.

Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Garut, Imat menyebutkan bahwa bencana alam tanah longsor di Kampung Kersamenak, Dewa Sukajaya, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut memutus jalan milik Provinsi Jawa Barat sepanjang 20 Meter. Timbunan  material longsor dengan ketinggian mencapai hingga 15 Meter dan jalan tersebut tidak bisa dilewati kendaraan roda empat maupun roda dua.

"Hingga saat ini, bantuan alat berat belum tiba di lokasi. Warga berupaya menyingkirkan material tanah namun belum berhasil, " ujar Imat di Garut, Senin 3 Desember 2018.

Bencana tanah longsor juga terjadi di kecamatan sama yaitu di Kampung Giriwangi, Desa Sukajaya, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut. Tebing setinggi 50 Meter dan lebar 30 Meter mengalami longsor menimpa badan jalan dengan material longsor setebal dua meter.

"Jadi badan jalan tak bisa dilewati kendaraan selain itu sebuah toko kelontong milik warga bernama Dedeh Evi hancur tertimpa longsor, " ungkap Imat.

Lanjut Imat, bencana berikutnya terjadi pergeseran tanah akibat hujan deras di Jalan Provinsi antara Pangalengan-Rancabuaya tepatnya di Blok Cieuncit, Desa Sukajaya Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut. Akibat kejadian tersebut tiga kepala keluarga telah dievakuasi ke tempat yang aman karena khawatir terjadi kembali pergeseran tanah.

"Sejauh ini, alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Adapun kerugian masih dalam perhitungan petugas," katanya.

Sumber: viva.co.id

0 Suka Share

Potensi Energi Geotermal 'Cilayu' Mencapai 100 MW



Kembali 'cisewu mendunia'. Dalam sebuah tulisan yang ditulis oleh Alexander Richter pada 15 Nov 2018 dalam laman thinkgeoenergy.com, disana ada nama cisewu yang disebut. Ya, tepatnya nama 'Cilayu' disebut sebagai salah satu yang sangat potensial untuk pengembangan energi panas bumi (Geotermal energy).

Dalam tulisan yang berbahasa inggris tersebut, didalamnya mengupas tentang 'PGE exploring geothermal development at Gunung Masigit area near Kamojang'. Dalam bahasa indonesia dapat dijelaskan bahwa PGE atau PT Pertamina Geothermal Energi (PGE) tengah melakukan pengembangan energi geotermal di sekitar kamojang yakni gunung masigit.

Namun kemudian lebih jauh mengulas tentang potensi energi panas yang ada di garut, dan cisewu salah satu yang disebut. Nah lumayan kan, cisewu disebut.. he

Dalam laman tersebut, ada kutipan yang mana sebetulnya penulis Alexander ini mengutip kembali perkataan dari bupati garut. Kemudian ditambahkan dengan beberapa data lain yang memang relevant. Adapun yang ada kata cisewunya yakni 'cilayu' ada di beberapa paragrap akhir yakni:

"In addition to Mount Masigit, the potential for geothermal energy in Garut that has not been cultivated is in Cilayu, Cisewu District, which has the potential of 100 MW and Ciarinem, Pakenjeng District with a potential of 25 MW."

Dalam bahasa indonesia artinya "Selain Gunung Masigit, potensi energi panas bumi di Garut yang belum digarap adalah di Cilayu, Kecamatan Cisewu, yang memiliki potensi 100 MW dan Ciarinem, Kecamatan Pakenjeng dengan potensi 25 MW."

Ya sebagaimana diketahui bahwa memang cilayu ini memiliki lokasi yang terdapat energi panas. Bahkan katanya ada beberapa wacana yang menyatakan untuk kemudian menjadikan itu sebagai destinasi wisata pemandian air panas. Mari kita lihat kedepannya akan bagaimana..

0 Suka Share

Terseret Longsor, Minibus Masuk Jurang di Jln Cisewu



Cisewu - Nahas, sebuah kendaraan mini bus berjenis Avanza warna hitam terseret material longsoran dan masuk kedalam jurang di ruas jalan Provinsi Talegong-Cisewu Kabupaten Garut, Jawa Barat tepat di ruas betulan blok Pasir Anjing Desa Mekarsewu, Kecamatan Cisewu, Garut,  Jum’at (2/10/2018) sekitar pukul 16.00. Wib.

Kendaraan Avanza yang belum sempat diketahui nomor polisinya tersebut, belakangan diketahui saat kejadian tengah dikemudikan oleh Endang (31) dengan dua orang penumpang masing-masing Ny Elis.(39) dan Asep Uloh (41) keduanya warga Kampung Pulosari, Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung.

Menurut Dikdik Hendrajaya pengurus PMI Kabupaten Garut, hujan deras yang sebelumnya terus menerus mengguyur di daerah tersebut diduga telah memicu terjadinya longsoran tanah tebing yang kemudian menyeret sebuah kendaraan mini bus Avanza yang kebetulan tengah melintas di lokasi kejadian hingga masuk kedalam jurang dengan kedalaman 50 meter.

“Aparatur setempat bersama masyarakat terdekat langsung memberikan bantuan meskipun lokasi kejadian sangat berat. Beruntung ketiga penumpang hanya mengalami luka – .luka dan langsung di Rawat di Puskesmas Cisewu.”Kata Dikdik kepada cakrawala.co, Sabtu (3/11/2018).

Dikdik menyatakan proses evakuasi berhasil dilakukan warga dan aparat setempat sehingga dapat menyelamatkan para korban.

“Namun kendaraan masih di dalam Jurang karena sangat sulit dilakukan pengangkatan harus menggunakan alat berat. Medan tempat lokasi kejadian  sulit untuk dilakukan evakuasi karena jurang sangat terjal dan cuaca masih hujan saat itu,”ujarnya.

Sementara itu Camat Cisewu Doni menyampaikan himbauan  kepada para pengguna jalan raya di daerahnya agar selalu waspada dan hati – hati.

“Apabila terjadi hujan yang cukup deras jangan memaksakan melanjutkan perjalanan lebih baik istirahat di tempat yang aman dan ramai,”imbaunya.***JMB

sumber: cakrawala.co

0 Suka Share

Cisewu Nyatakan ‘Perang’ Pada Narkoba

Cisewu – Seluruh perangkat desa di Kecamatan Cisewu Kabupaten Garut mencanangkan pemberantasan narkoba di wilayahnya. Hal itu dilakukan untuk mewujudkan desa bersih dari peredaran narkoba.

“Seluruh warga desa di Cisewu sudah sepakat memerangi narkoba. Karen kami ingin desa-desa di sini (Cisewu Garut) bersih dari narkoba,” ujar Camat Cisewu Doni Rukmana SPd kepada wartawan, Sabtu (13/10).

Menurut dia, pencanangan desa bersih dari narkoba ini sejalan dengan program kecamatan maupun pemerintah daerah dan pusat. Yaitu menangkal peredaran narkoba, terutama di pedesaan.

“Kami ingin semua desa yang ada di daerah bersih dari narkoba,” terangnya.

Doni berpendapat, bahwa peredaran narkoba saat ini tak hanya di wilayah perkotaan, melainkan sudah masuk ke pedesaan. Sehingga, diperlukan ketahanan yang kuat dari desa untuk menangkal ancaman tersebut.

“Dengan adanya pencanangan desa bersih narkoba ini, agar warga desa mampu memiliki daya tangkal yang kuat terhadap peredaran narkoba. Kita komitmen dalam perang melawan narkoba,” paparnya.

Dia mengatakan, Kecamatan Cisewu merupakan perlintasan dari berbagai kabupaten, seperti Bandung, Cianjur dan Tasikmalaya. Tingginya mobilitas arus lalu lintas terkadang membuat jalur selatan ini mengalami kemacetan hingga puluhan kilometer.

Jika sudah demikian, kata Doni, tidak menutup kemungkinan akses pengiriman barang haram ke daerahnya menjadi sasaran peredaran narkoba.

Untuk mewujudkan pencanangan tersebut, tambah dia, pihaknya bekerjasama dengan Pergerakan Anti Napza Nusantara Amartha (PANNA) Kabupaten Garut, dalam melakukam sosialisasi kepada masyarakat.

“Kami gandeng PANNA karena lembaga ini merupakan bidangnya dalam pemberantasan narkoba,” imbuhnya.

Ketua DPD PANNA Garut, Igie N Rukmana SKom, mengapresiasi dan menyambut baik pencanangan desa bebas narkoba.

Menurutnya, langkah ini merupakan salah satu komitmen daerah Cisewu dalam upaya melaksanakan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN).

“Hal ini adalah bentuk nyata dan kesungguhan seluruh komitmen anak bangsa untuk aktif dalam mencegah penyalahgunaan dan peredaran narkoba,” katanya. (yna)

Sumber: RadarTasikmalaya

0 Suka Share

[Mistis Cisewu] Bunyi Lesung Siluman Penanda Kematian


Cisewu - Lesung atau lisung adalah alat tradisional yang berfungsi untuk memisahkan kulit padi dan beras. Alat ini dahulu digunakan masyarakat Sunda ketika belum ada mesin penggilingan padi.

Lesung dibuat dari kayu gelondongan dan dibentuk menjadi seperti perahu. Bagian cekungan digunakan untuk menampung padi yang akan ditumbuk menggunakan semacam tongkat kayu yang biasa disebut alu. Dengan tumbukan secara mekanik, kulit padi akan terkelupas menjadi beras.

Zaman dahulu, kegiatan menumbuk padi dilakukan oleh beberapa orang secara bersama-sama. Benturan kayu melalui alu dan lesung menghasilkan alunan musik ritmis yang khas. Alunan musik itu bisa bergema sampai ke desa-desa sekitar Cisewu.

“Kini lesung dan alu menjadi barang antik. Orang sudah tidak lagi menggunakannya karena sudah ada penggilingan padi,” kata Mardiana (53) kepada NNC, Sabtu (8/9/2018) di rumahnya yang terletak di Desa Cisewu, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

“Maka, kalau di zaman sekarang terdengar alunan musik lesung dan alu, sebenarnya pantas dicurigai,” sambung Mardiana. Ibu paruh baya dan telah beranak tiga itu mempunyai kenangan tersendiri terhadap alunan musik itu.

“Dulu, saat saya kecil, masih ada yang menumbuk padi dengan alu dan lesung,” katanya.

Ia sangat mengenal alunan musik itu. Namun, buru-buru ia memotong ceritanya dengan hal yang cukup mengejutkan penulis, “Tapi, jangan dikira semua alunan musik lesung itu semua benar-benar hasil dari kegiatan menumbuk padi. Ada jenis alunan musik lain yang sebenarnya siluman,” ungkapnya.

Maksud Mardiana sempat sulit dicerna penulis. Namun, ia kemudian memperjelas, “Jadi, ada alunan musik lesung yang sebenarnya jadi-jadian atau alunan musik yang dimainkan oleh roh halus. Roh halus itu sedang menggoda dan mencari mangsa untuk menjadi temannya di alam baka.”

Menurut Mardiana, dulu setiap kali ada siluman alunan musik lesung, pasti tak lama kemudian akan ada warga yang meninggal. “Musik siluman itu kadang terdengar menjelang maghrib. Tak jarang juga terdengar setelah salat subuh,” ujarnya.

Kata Mardiana, “Ciri dari alunan musik lesung buatan siluman ‘pencabut nyawa’ itu, gemanya mendayu-dayu dan sampai di telinga seperti bergelombang, volumennya seolah mengeras dan mengecil. Suaranya bisa didengar semua orang di satu desa dengan jelas.”

Musik itu konon dimainkan para siluman atau roh halus untuk mengiringi arwah orang yang akan meninggal. Maka bisa dikatakan, siluman musik lesung di Cisewu adalah roh halus yang bertugas mengantar seseorang menghadap pada Tuhan Yang Maha Esa.

Rupanya, hantu musik lesung yang dikisahkan Mardiana ada asal-usulnya. Mardiana mampu menjelaskannya karena memang ada kisah dan sejarahnya yang nyata dan pernah terjadi.

“Hantu alunan musik lesung terjadi sejak ada peristiwa tewasnya dua orang pembuat lesung pada 1932,” kata Mardiana yang mengaku hobi membaca-baca buku sejarah dan pernah duduk di bangku sekolah hingga SMA di Bandung, Jawa Barat.

“Persitiwa itu sebenarnya dicatat juga dalam Koran de Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad yang terbit tanggal 24 Mei 1932. Saya pernah membacanya di sebuah buku,” kata Mardiana yang sayangnya mengaku lupa dengan judul buku itu.

Ia menambahkan, “Isi beritanya cukup detail yang menjelaskan kisah Veldpolitie, atau polisi lapangan di era Kolonial Belanda di daerah Garut, berhasil membongkar kasus tewasnya dua orang pembuat lesung, yang terjadi di sekitar hutan dekat perkebunan teh dan kina di Pasirmalang.”

Perkebunan teh yang dimaksud Mardiana, kini terletak di perbatasan Kabupaten Garut dan Bandung, tepatnya di Desa Warnasari, Kecamatan Pangalengan, Bandung. Penulis sempat melacak alamat lokasi yang diberikan Mardiana.

Memang benar seperti dituturkan Mardiana, pada mulanya Veldpolitie curiga atas laporan dua warga kepada Kepala Desa Cisewu yang menyebutkan bahwa dua orang lelaki yang tewas itu disebabkan karena terjatuh di Sungai Tjilaki. Saat dilaporkan, kedua mayat itu telah dikuburkan.

Dua orang warga yang melapor itu akhirnya diperiksa polisi Belanda. Mayat dua temannya juga digali dan dilakukan otopsi di Rumah Sakit Juliana, Bandung. Akhirnya, semua fakta terbongkar.

Ternyata, dua teman pelapor yang berprofesi sebagai pembuat lesung, tewas bukan karena jatuh di kali. Kedua orang itu tewas karena tertimpa pohon yang akan dicuri dari hutan.

Saat mencuri pohon di hutan, mereka berempat menebang dengan cara yang salah. Arah robohnya tidak sesuai yang direncanakan, tetapi berbalik ke arah lain dan menjatuhi dua orang di antara mereka. Dua warga yang selamat berusaha membuat cerita palsu untuk menutupi aksi pencurian kayu.

“Sebenarnya, bagi saya, isi berita zaman Belanda itu juga menyiratkan arti ketidakadilan. Mengapa? Kalau orang Belanda membabat hutan untuk membuka perkebunan teh dan kina, dianggap sah-sah saja. Tapi kalau orang bumiputra mengambil pohon di negerinya, malah dikatakan pencuri,” kata Mardiana yang menandakan ia adalah sosok perempuan yang cukup cerdas.

Ia melanjutkan, “Yah, begitulah, Mas. Sejak kematian dua orang pembuat lesung, warga di desa ini sering mendengar suara musik lesung, padahal tak ada warga yang menumbuk padi. Dan setiap bunyi alunan musik itu terdengar, esok harinya ada warga yang meninggal.”

“Mungkin, dengan cara itulah arwah dua orang pembuat lesung itu ingin agar ia tidak dilupakan. Mereka adalah orang bumiputra pembuat lesung yang miskin dan tewas mengenaskan tetapi dicap sebagai pencuri,” sambung Mardiana sambil membandingkan nasib pejabat yang korupsi tetapi tetap mujur setelah bebas dari penjara.

Saat penulis menanyakan apakah siluman alunan musik itu masih sering terdengar hingga kini, Mardiana menjawab, “Sejak era modern dan banyak berdiri perumahan, keramaian, saya sudah lama tak mendengar alunan musik siluman itu. Saya sebenarnya kangen suaranya,” pungkasnya.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro

SUMBER
0 Suka Share

Yuk Hadir di Pentas Seni Kobar Semangat Berkarya Cisewu


Sudah jadi tradisi masyarakat indonesia, setiap perayaan hari ulang tahun RI, diisi dengan beragam kegiatan. Hal itu dilakukan di seluruh pelosok indonesia dan salah satunya di kecamatan cisewu kabupaten garut.

Adapun bentuk kegiatan yang dilakukan sangat beragam mulai dari upacara bendera, pentas kesenian, perlombaan dan lain sebagainya. Kegiatan juga dilakukan bukan hanya pas tanggal 17 agustus saja namun juga sebelum atau  sesudahnya.

Dalam rangka  memperingati hari ulang tahun  republik indonesia ke 73, karang taruna rw 02 cisewu mengadakan sebuah acara pentas seni. Acara tersebut bertajuk 'Kobar semangat berkarya ulang tahun indonesia ke -73'.

Acara tersebut rencananya akan digelar  pada 31 Agustus 2018. Adapun lokasinya adalah di kantor kecamatan cisewu.

Dalam acara  tersebut, ada beragam kegiatan yang dilakukan dan dimeriahkan oleh beberapa komunitas seni terkenal yang ada  di cisewu khususnya. Beberapa komunitas  dan group musik yang akan ikut memeriahkan kegiatan tersebut diantaranya adalah:

  • D'45
  • Sunda Mahiwal
  • Divisi Uyuhan
  • Swanda Tari
  • Tulalit Band
  • Sanekala Band, dll

Acara tersebut terselenggara dari dukungan beberapa sponsor diantaranya PD Camy Cell, PD. Ama Putra, Reva Motor, PHBI, Fajri Broiler, dan lain lain.

Bagi warga cisewu, ditunggu kehadirannya untuk memeriahkan acara tersebut.
0 Suka Share

Puskesmas Cisewu Raih Penghargaan 'Terbaik' Nasional


Cisewu - Segenap keluarga besar Pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS) kecamatan cisewu khususnya dan seluruh warga cisewu pada umumnya patut berbangga diri. Pasalnya beberapa waktu lalu, Puskesmas Cisewu berhasil meraih penghargaan sebagai 'Puskesmas BLUD Terbaik'.

Penghargaan yang disabetnya kali ini adalah sebagai Puskesmas BLUD Terbaik dalam kategori ketepatan waktu penyusunan laporan keuangan. Penghargaan tersebut diberikan dalam sebuah sesi seminar nasional dan pemberian penghargaan BLUD terbaik dengan tema "Peningkatan kapabilitas pengelolaan keuangan BLUD" di Jogjakarta pada Tanggal 04 Agustus 2018.

Diketahui bahwa Seminar Nasional tersebut diadakan di Hotel Platinum Yogyakarta pada tanggal 04 Agustus 2018. Kegiatan tersebut dihadiri diikuti oleh sekitar 75 instansi Pemerintah daerah Se-Indonesia.

Selain itu, dalam acara tersebut hadir pula perwakilan IAI yaitu Bapak Rudy Suryanto, perwakilan dari Kemendagri yaitu R.Wisnu Saputro dan perwakilan dari Kemenkes Bapak Ganda Raja Partogi S.

Dalam acara  tersebut, Ganda Raja Partogi S seperti dilansir blud.co.id mengatakan bahwa arah pengembangan upaya kesehatan dari kuratif bergerak ke arah preventif, dan promotif sesuai kondisi dan kebutuhan.

Pada puskesmas, tantanganya ada beberapa Penyerapan dana kapitasi, Kendala puskesmas menunggu cairnya dana di awal tahun untuk pelaksanaan kegiatan dan Jumlah dan jenis SDM kesehatan yang masih terbatas.

0 Suka Share

Bangunan Tengah Lapang Lemah Luhur Cisewu Bakal Dibongkar


Cisewu - Beberapa waktu lalu, sempat viral menjadi perbincangan netizen khususnya masyarakat cisewu  yang menyampaikan protes terhadap berdirinya bangunan di tengah lapang. Bangunan tersebut ada di lapang lemah luhur cisewu yang selama ini menjadi icon utama kecamatan cisewu.

Melihat hal tersebut, anak-anak mudah cisewu melakukan  audiensi dengan pihak pemerintahan desa cisewu yang membangun bangunan tersebut. Akhirnya setelah dilakukan audiensi, pemerintah desa cisewu yang dimotori BPD setuju untuk membongkar bangunan tersebut.

Pembongkaran tersebut rencananya akan dilaksanakan pada Minggu, 12 Agustus 2018 dimulai dari pukul 08.00 WIB - Selesai. Bagi yang ingin bantu untuk melakukan pembongkaran, bisa langsung datang pada waktunya.

Hal itu diketahui dari salah satu status facebook Egiz Sugestian Tkci. Berikut adalah kutipan statusnya:

"Egiz Sugestian Tkci bersama Romdona Trada dan 48 lainnya di Lapang Lemah Luhur.

Nasib lemah luhur ??????

Asalamualaikum Wr. Wb.
Salam juang!

Menindaklanjuti hasil Audensi pertama pada tanggal 1 Agustus 2018, Audensi kedua pada tanggal 4 Agustus 2018, dan Audensi akhir pada tanggal 8 Agustus 2018.
Alhamdulillah sesuai dengan harapan dan permintaan dari pihak pemuda serta masyarakat mengenai bangunan di tengah lapang lemah luhur, maka pihak pemerintahan Desa Cisewu yang dimotori oleh BPD, memutuskan :
Bangunan dinyatakan di bongkar / diruntuhkan dan lapang lemah luhur di kembalikan ke fungsi semula, untuk pelaksanaan pembongkaran bangunan yang dimaksud akan dilaksanakan pada hari Minggu, 12 Agustus 2018 dimulai dari pukul 08.00 WIB - Selesai.
Maka dari itu, kepada seluruh lapisan masyarakat dan pemuda khususnya, dimohon agar dapat berkenan hadir tepat pada waktunya.

Sekian dan Terimaksih, Salam dan Do'aKu …!

#salamjuangpemuda
#perjuanganbelumusai
#saatnyayangmudaberkarya
#huripcisewu
#yangtautausaja
#bangkitbersama"
0 Suka Share

[Video] Pertunjukan Komunitas Karinding 'Karsaraga' Cisewu


Cisewu.com - Cisewu memiliki beragam komunitas positif dan kreatif khususnya dalam hal seni budaya dan pertunjukan. Sebut saja ada komunitas sundamahiwal, komunitas karinding 'Karsaraga' dan lainnya.

Karya mereka banyak di upload di media digital baik YouTube, Instagram, Facebook dan lainnya. Kini warga cisewu bisa dengan mudah menyaksikan penampilan-penampilan mereka tanpa harus langsung datang ke tempat mereka berlatih atau melakukan pertunjukan.

Berikut ini ada salah satu video yang dari penampilan komunitas karsaraga yang diupload di instagram. Dalam video tersebut terlihat sebuah pertunjukan yang cukup keren sekali. Kostum yang segaram disertai irama musik yang seragam pula, pas dan enak didengar.

Simak Berikut ini Videonya:

https://www.instagram.com/p/BlzJn2RAXWT/?utm_source=ig_web_copy_link

Diketahui bahwa penampulan tersebut dilakukan dalam sebuah acara khusus yang bertajuk 'Hajat Lembur dan Ruwatan Bumi Cikangkung' pada hari Sabtu, 28 Juli 2018. Acara tersebut digelar di halaman rumah budaya 'Sunda Galuh Pakuan' Kp Cikangkung Desa Cisewu, Kabupaten Garut.

Dalam acara tersebut, digelar beragam kegiatan dan pertunjukan, diantaranya:
-Wayang golek
-Miara Hulu Cai
-Angklung
-Kendang Penca
-Calung
-Imortal Sundanese
-Kecapi
dll
Selain itu, ada orasi budaya juga dari Gun Gun Nugraha.
0 Suka Share

Ayo Pesan Pamanah Rasa Product Siap Order


Berawal dari kondisi dewasa ini kebanyakan pemuda desa merantau ke kota, untuk sekedar mencari rupiah. Banyak yang mencari kerja ke pabrik, pasar dan karyawan lainnya.

Dengan konsekuensi pekerjaan tersebut sangat berat dan penghasilan standar. Tergiur dengan hal tersebut membuat orng tergiur untuk pergi meninggalkan desanya.

Sehingga berakibat sedikitnya jumlah para pemuda generasi penerus pembangunan daerahnya. Oleh karena itu kami bergerak untuk menyadarkan para pemuda dan pemudi untuk kembali bersama membangun desa. Pemuda/i mandiri berkreasi bersama hati membangun negeri.


Pamanah Rasa Product adalah ikhtiyar awal kami untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Usaha yang bergerak pada bidang olahan makanan. Adapun jenis-jenis olahan makanan yang saat ini ada adalah Donat Pamanah Rasa, Martabak Mini Pamanah Rasa, Apang Bakar Gula Aren Pamanah Rasa. Dan masih banyak lagi olahan makanan lain yang akan di pasarkan.

Adapun deskripsi Harga dari masing-masing produk adalah sebagai berikut :

1. Donat Pamanah Rasa

Harga Bermulai dari RP. 1000, - Rp. 3000,

2. Martabak Mini Pamanah Rasa

Harga Bermulai dari Rp. 1000, Sampai 3000,-

3. Apang Bakar Gula aren Pamanah Rasa 

Harga Mulai dari Rp. 1000 - Rp. 3000,

Tunggu produk lagi yang lainnya ya kawan-kawan.

Adapun Rumah produksi kami Terletak di Kp. Rahayu RT. 01 RW. 05 desa Pamalayan Kecamatan Cisewu Kabupaten Garut.

Usaha ini dikelola Oleh Abdul Hamid dengan Kontak yang bisa di hubungi :
Whatsapp dan telpon.

081313071012
Instagram : Pamanahrasa_product

Jika mau order untuk wilayah Cisewu, kami tunggu di nomor kontak yang tersedia.

Terimakasih
Salam hangat dari kami Tim Pamanah Rasa Product
0 Suka Share

Patung Mirip 'Macan Cisewu' Ini Laku 15 Juta Rupiah


Seorang seniman asal London Peter Flory menciptakan patung macan yang mirip sekalidengan 'Macan Cisewu' di Garut, Jawa Barat. Patung tersebut laku seharga Rp15 dalam Summer Exhibition 2018 in the Courtyard and Staircase, Vestibule and Sackler Stairs, London beberapa waktu lalu.

Patung yang diberi nama 'Le Petit Henri - Not Quite So Surprised! - An Homage To Rousseau' itu memiliki ukuran 62 x 110 x 20 cm. Sementara untuk beratnya yakni memiliki berat 5,8 kilogram yang mana terbuat dari bubur ketas dan rangkaiannya menggunakan kawat khusus.

Dilansir DetikHot, salah seorang netizen bernama @sillysampi berkicau mengenai patung  yang laku Rp 15 juta di London itu. Menurutnya,  di luar negeri karya seni dihargai dengan harga yang sangat mahal, beda dengan di indonesia.

"Di Indonesia dia jadi bahan olok-olok. Di London terpilih jadi karya seni," kicaunya seperti dikutip detikHOT.

Cisewu memang sempat booming bahkan sampai mendunia namanya setelah fenomena macan lucu. Meski sekarang sudah tak ada lagi ‘macan lucu’ itu, namun banyak yang menangisi kepergiannya. Banyak yang mengabadikannya, termasuk dalam komik marvel.

Semoga kedepan, cisewu bisa terkenal karena prestasi dan keunggulan lain yang dimilikinya. Mari warga cisewu, kita tunjukan karya kita kepada dunia..

0 Suka Share

Kebakaran Rumah Di Girimukti, Kecamatan Cisewu -Garut


Cisewu.com - Informasi terkini telah terjadi kebakaran Rumah di Desa Girimukti, Kecamatan Cisewu-Garut, tepatnya berada di kampung Kiararambay, Desa Girimukti, Kecamatan Cisewu.

Kebakaran tersebut terjadi pada dini hari sekitar pukul 03.00 WIB (Minggu/08 Juli 2018). Rumah yang terbakar ini merupakan Rumah milik pak Darosman warga Kp.Kiararambay, Desa Girimukti.

Penyebab terbakarnya rumah tersebut belum ada keterangan pasti dari pemilik Rumah tersebut. karena bapak Darosman masih dalam keadaan sok melihat rumahnya terbakar.

Beruntung kejadian ini tidak memakan korban, namun kerugian akibat terbakar rumah ini bisa ditaksir puluhan juta rupiah.

Banyak informasi yang beredar di akun sosial media salah satunya adalah di akun sebagai berikut:
Image Source: facebook. Kebakaran Rumah di Kp.Kiararambay, Desa Girimukti, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut


Semoga keluarga korban diberikan ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi bencana ini.

***Note: Infomasi akan terus di update.
0 Suka Share

Akses Bandung-Cisewu-Rancabuaya Banyak Tikungan


Jalan Tikungan Sukajaya - Cisewu -Garut
Cisewu – Akses jalan Bandung Garut via cisewu Rancabuaya memiliki jalan yang bagus namun selain itu juga Akses jalan tersebut memiliki tikungan yang tajam sehingga para pemudik dan para wisatawan yang hendak pulang kampung dan juga para wisatawan yang hendak liburan agar ekstra hati-hati. 
Jalan Raya Talegong -Garut

Mengingat Jalan yang sempit yang cukup untuk dua kendaraan dan itu juga berguna untuk kedua arah, maka dihimbau kepada pengunjung dan para wisatawan agar menjaga fisik dan harus hati-hati ketika melewati Jalur Garut Selatan Via Pangalengan-Cisewu_Rancabuaya.

Selain memiliki kecuraman, jalan ini memiliki tikungan atau belokan yang memiliki belokan 45-70 derajat sehingga dihimbau kepada masyarakat dan juga para pemudik agar berhati-hati dan juga harus menyalakan lampu kendaraan untuk menjaga lalu lintas agar tetap aman.
0 Suka Share